Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juni 2014

Wahai Juwita Malamku, Indonesia

Wahai juwita malamku, Indonesia
Bintang tenggara di lautan teduh nan luas
Jamrud pesona indah di terik matahari khatulistiwa
Memandangmu tak kan pernah ku bosan
Dengan sejuta musim, sejuta wajah, sejuta senyum, sejuta perbedaan, tapi ku harap tidak dengan sejuta masalah
Di nadimu mengalir darah ratna
Harum ranum semerbak sebagai bunga kesuma bangsa
Tapi ku harap tidak mengalir darah busuk kecoa-kecoa tengik itu
Biru dan dalam samudra berombak melintang dari ujung sabang hingga merauke
Tapi ku harap nelayan cukup makan, dan kenal bangku sekolah
Nyiur nan indah meliuk melekuk di hembus angin timur
Tapi kuharap anginnya tak cukup dingin hingga menggigil anak jalanan di emper kota
Samudra di atas awan dengan matahari genit menyapa
Tapi teriknya kuharap tak membuat petani kewalahan karena sudah lelah terjerat tengkulak nakal
Wahai juwita malamku, Indonesia
Dimana senyummu yang ayu itu
Kejora mata indah nan syahdu itu
Apa sekarang sudah menjadi pelangi dan sungai air mata ?
Wahai juwita malamku, Indonesia
Permata terpendam timur Indonesia
Anugrah megah nirwana Sang Hyang Widhi

Rabu, 14 Mei 2014

Mana yang kau pilih ?

Hampir saja aku melupakan sejarah hari kemarin. Jika saja aku tidak mendengarkan radio. Beruntung ada radio yang masih mengingat sejarah hari itu. Di tengah lunturnya norma-norma masyarakat Indonesia yang sudah semakin pudar. Masih adakah yang mengingat sejarah?
Memori pun kembali berputar ke jaman dimana sepenggal tanah ibu pertiwi ini di bayar oleh ribuan nyawa dan tetesan darah manusia yang hidup untuk berkorban.
Di tanah kelahiranku ini, di bumi yang aku pijak ini pernah bersimbah darah dari jiwa suci yang hanya punya dua pilihan. Merdeka atau mati.
Aku masih mengingat salah satu syair dari sajak karya Gie. Nasib terbaik adalah dilahirkan tapi mati muda. Sang Penentu Nasib telah menggariskan hal itu pada mereka. Mereka. Mereka yang tak peduli berapapun usia mereka dan apapun cita-cita mereka. Karena bagi mereka mati adalah kata lain dari merdeka dan merdeka adalah kata lain dari cita-cita.
Mereka adalah bara. Semangat-semangat mereka serupa bara yang kemudian kagum menjadi api. Terpatri dalam setiap urat dan nadi mereka. 

Jika hidupku hanya terdiri dari dua pilihan. Merdeka atau mati. Mana yang aku pilih?
Jika hidupmu hanya terdiri dari dua pilihan. Merdeka atau mati. Mana yang kau pilih ?







                         Untuk Bandung Lautan Api yang kini jadi       
                         Bandung Lautan Baliho Caleg 
                         Bumi Siliwangi, 25 Maret 2014